SUMENEP, RINGSATU.Net – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax beberapa waktu lalu mulai memunculkan dampak lanjutan di Kabupaten Sumenep.
Sejumlah SPBU dilaporkan mengalami keterbatasan stok BBM tertentu, sementara antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite semakin mengular.
Kondisi ini memicu keluhan masyarakat yang khawatir kelangkaan BBM akan semakin meluas.
Fenomena tersebut diduga dipicu oleh peralihan besar-besaran pengguna Pertamax ke Pertalite setelah harga Pertamax melonjak naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.
Akibatnya, beban distribusi dan konsumsi BBM subsidi meningkat tajam dalam waktu singkat.
Di sejumlah SPBU, warga mengaku harus mengantre lebih lama dibanding biasanya salah satunya SPBU di Kecamatan Ganding.
Bahkan beberapa pengendara memilih mencari SPBU lain setelah mendapati stok BBM tertentu kosong atau dibatasi.
“Kalau begini terus masyarakat yang dirugikan. Harga Pertamax naik, warga pindah ke Pertalite, sekarang Pertalite mulai sulit didapat. Jangan sampai rakyat dipaksa antre hanya untuk mendapatkan BBM,” ujar salah seorang pengendara yang ditemui pada Rabu (24/6/2026).
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan distribusi BBM pasca kenaikan harga.
Sebab, lonjakan permintaan akibat migrasi konsumen seharusnya dapat diprediksi sejak awal.
Banyak pihak menilai persoalan bukan hanya soal stok, tetapi juga antisipasi dan manajemen distribusi yang harus lebih responsif terhadap perubahan perilaku konsumen.
Berdasarkan sejumlah sumber, peningkatan konsumsi Pertalite di Sumenep memang terjadi setelah kenaikan harga Pertamax.
Antrean kendaraan di SPBU menjadi pemandangan yang semakin sering terlihat dalam beberapa pekan terakhir.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan pihak terkait segera memastikan pasokan BBM tetap aman agar tidak memicu kepanikan di tengah masyarakat.
Penulis : Matirda
Editor : Masbae77


Komentar