Berita

Petani Meradang, Paguyuban PR di Sumenep Dinilai Gagal Angkat Harga Tembakau dan Diminta Bubar

6
×

Petani Meradang, Paguyuban PR di Sumenep Dinilai Gagal Angkat Harga Tembakau dan Diminta Bubar

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi seorang petani tembakau tidak dapat menahan rasa kecewanya terhadap harga tembakau yang dinilai murah tahun ini
Foto: Ilustrasi seorang petani tembakau tidak dapat menahan rasa kecewanya terhadap harga tembakau yang dinilai murah tahun ini

SUMENEP, RINGSATU.Net – Harapan petani tembakau di Kabupaten Sumenep kembali pupus di tengah musim panen yang seharusnya membawa berkah, Senin (15/9/2025).

Harga jual tembakau justru anjlok hingga di bawah Rp 65 ribu per kilogram itu pun masih melihat kualitas tembakaunya, bahkan dikabarkan ada yang dihargai Rp. 30 ribu per kilogram.

Situasi ini membuat para petani mengeluh dan merasa dikhianati oleh janji-janji manis para pengusaha rokok lokal yang sebelumnya digadang-gadang mampu mengangkat nilai jual tembakau.

MR (45) petani asal Kecamatan Ganding, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

“Harga di petani Rp. 52 ribu itu kalau tembakaunya bagus, bahkan ada tetangga saya laku Rp. 30 ribu per kilogramnya, Dengan harga segitu, petani tidak bisa menutupi biaya produksi. Mulai dari tanam, rajang, hingga proses pengeringan tembakau butuh biaya besar. Belum upah kerjanya yang jelas tak memadai,” keluhnya meski tak menyebutkan secara terperinci.

Janji perusahaan rokok lokal untuk menyerap tembakau petani dengan harga layak dinilai hanya bualan belaka.

Keberadaan mereka tak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Mengenai hal tersebut, Kritik tajam dilayangkan kepada Ketua Paguyuban Perusahaan Rokok (PR) Sumenep, Sofyan Wahyudi, oleh seorang pemuda melalui akun TikTok bernama “Faiqshinoby”, pada Senin (15/9/2025).

Dalam unggahannya, pemuda tersebut menilai keberadaan paguyuban selama ini tidak memberi dampak signifikan terhadap kenaikan harga tembakau di kalangan petani.

“Berharap pada manusia adalah patah hati yang paling disengaja, petani sekarang sedang meradang,” ujar Faiq dalam video tersebut, yang dengan cepat menyedot perhatian warganet, khususnya masyarakat Madura.

Menurutnya, paguyuban yang awalnya diharapkan dapat membawa angin segar bagi petani, justru berubah menjadi sekumpulan orang yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Ia menuding bahwa paguyuban tidak pernah memperjuangkan kepastian harga jual tembakau yang layak, di tengah kondisi cuaca yang mempengaruhi kualitas panen tahun ini.

Lebih lanjut, pemuda itu bahkan secara lantang menyarankan pembubaran paguyuban jika memang tak mampu berbuat banyak untuk petani.

“Jika mereka tidak membawa dampak apa-apa sebaiknya bubarkan saja,” katanya dengan lantang.

Ia juga menyindir Pemerintah Daerah yang dinilainya tidak melakukan validasi lapangan terkait harga titik impas tembakau, sehingga kebijakan yang diambil tidak sesuai dengan realitas dan kebutuhan petani.

“Mungkin saja Pemerintah tidak turun kelapangan sehingga harga yang ditetapkan tidak sesuai dengan harga yang diharapkan oleh para petani tembakau,” tutupnya.