Berita

Telan Rp1,9 Miliar, Proyek Jalan Labuhan–Sreseh Sampang Retak di Mana-Mana: Dugaan Pekerjaan Asal Jadi Menguat

3
×

Telan Rp1,9 Miliar, Proyek Jalan Labuhan–Sreseh Sampang Retak di Mana-Mana: Dugaan Pekerjaan Asal Jadi Menguat

Sebarkan artikel ini
FOTO: Kondisi Fisik Pembangunan Proyek Jalan Rabat Beton Retak
FOTO: Kondisi Fisik Pembangunan Proyek Jalan Rabat Beton Retak

SAMPANG, RINGSATU.Net – Proyek peningkatan struktur Jalan Labuhan–Sreseh di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik. Pekerjaan bernilai Rp1,9 miliar yang dikerjakan CV Kencana Bahari itu sudah mengalami keretakan serius, padahal baru selesai dikerjakan sekitar dua bulan lalu, Kamis (20/11/2025).

Dalam papan proyek tercantum nilai kontrak Rp1.984.717.000 yang bersumber dari APBD 2025. Proyek ini berada di bawah tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sampang, dengan nomor kontrak 01.32/09.02/KONTRAK/434.207/VII/2025.

Namun hasil di lapangan jauh dari harapan. Beton jalan di sejumlah titik mengalami retakan memanjang yang jelas terlihat secara kasat mata. Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar soal kualitas material, metode pengerjaan, dan pengawasan dari pihak dinas.

Pantauan RINGSATU.Net menemukan indikasi kuat bahwa pekerjaan tidak dilakukan sesuai standar teknis. Pada proses pengecoran, besi wiremesh tampak dibiarkan menempel di lantai dasar, bukan berada di tengah tebal beton sebagaimana ketentuan teknis konstruksi jalan. Posisi wiremesh yang salah ini membuat fungsi tulangan menjadi tidak maksimal dan berpotensi memicu retakan dini.

IMG 20251121 WA0008

Seorang warga membenarkan bahwa proyek tersebut belum lama selesai.

“Baru sekitar dua bulan selesai dikerjakan, mas. Tapi kondisinya sudah pada retak,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Hingga berita ini diterbitkan, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas PUPR Sampang, Amirul Kusnan, belum memberikan jawaban meski konfirmasi telah dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Sikap bungkam ini justru mempertebal dugaan bahwa ada persoalan serius dalam pelaksanaan proyek.

Publik kini mempertanyakan transparansi, kualitas pelaksanaan, hingga kemungkinan adanya praktik pengerjaan asal jadi demi mempercepat penyelesaian proyek. Dengan nilai anggaran hampir Rp2 miliar, kerusakan dini ini menjadi alarm keras bagi aparat penegak hukum dan lembaga pengawas untuk turun tangan menyelidiki dugaan penyimpangan.