Berita

Krisis Soliditas Paguyuban PR Sumenep Retak di Balik Asap Rokok

155
×

Krisis Soliditas Paguyuban PR Sumenep Retak di Balik Asap Rokok

Sebarkan artikel ini
FOTO: Ilustrasi
FOTO: Ilustrasi

SUMENEP, RINGSATU.Net – Sebuah wadah yang semula digadang-gadang sebagai simbol persatuan pengusaha rokok di Sumenep kini justru berada di ambang kehancuran.

Paguyuban Perusahaan Rokok (PR) yang baru berusia kurang dari setahun, perlahan kehilangan daya ikatnya.

Kurangnya transparansi keuangan dan minimnya penanganan dari pengurus inti saat anggota mempunyai masalah memicu krisisnya kepercayaan.

Dulu, kurang lebih 80 pengusaha rokok bergabung dengan semangat kebersamaan.

Namun kini, jumlah itu menyusut drastis, hanya menyisakan kisaran 15 anggota.

Satu per satu anggota memilih angkat kaki, meninggalkan paguyuban yang kian kehilangan arah.

Seorang anggota mengungkapkan kekecewaannya. Ia menuding tidak adanya transparansi dalam pengelolaan keuangan yang dikumpulkan setiap bulan dari anggota.

“Kita setiap bulan menyetorkan iuran untuk keperluan paguyuban, tapi hingga kini tidak ada laporan yang jelas mengenai penggunaan uang tersebut,” ujarnya dengan nada penuh kekesalan, Jumat (23/1/2026).

Lebih jauh, pengurus inti dianggap abai terhadap tanggung jawab, terutama ketika anggota menghadapi masalah.

“Saat kami butuh dukungan, tidak ada yang turun tangan. Semua dibiarkan begitu saja,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Paguyuban Perusahaan Rokok (PR) Sumenep, Sofwan Wahyudi, menegaskan bahwa keberadaan paguyuban serta iuran bulanan sebesar Rp3 juta dari setiap anggota bukanlah bentuk pengamanan apabila perusahaan rokok menghadapi persoalan hukum maupun kebijakan.

Jadi uang tersebut merupakan bentuk kerja sama untuk membangun branding dan publikasi pemberitaan seputar kemajuan, capaian, serta peningkatan kinerja masing-masing perusahaan rokok yang tergabung di dalam paguyuban.

“Uang Rp3 juta itu untuk kerja sama membranding pemberitaan, mengangkat progres dan pertumbuhan setiap perusahaan. Bukan untuk pengamanan,” tegasnya, Sabtu (24/1/2026).

Menurut Sofwan, paguyuban PR sejak awal dibentuk sebagai ruang kebersamaan dan kolaborasi, bukan sebagai tameng atau alat perlindungan.

Ia menekankan bahwa tujuan utama paguyuban adalah memperkuat sinergitas antar pengusaha rokok, khususnya dalam berbagi keahlian, memperluas jaringan, membangun network, hingga memperkuat strategi pemasaran.

“Paguyuban ini dibangun untuk saling menguatkan, bukan untuk membeli rasa aman,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa H. Udik itu bahkan menyampaikan pernyataan tegas bagi pihak-pihak yang masih memelihara asumsi keliru terkait iuran bulanan tersebut.

“Jika ada yang berasumsi uang Rp3 juta itu untuk pengamanan, silakan keluar. Jangankan tiga juta, lima puluh juta kalau ada yang bisa memback up saya, saya bayar, bicara soal keuangan di paguyuban saya pribadi masih banyak membantu,” tegasnya, Sabtu (24/1/2026).

Pernyataan H. Udik mencerminkan sikap terbuka sekaligus keras dari pimpinan paguyuban dalam menjaga marwah organisasi agar tidak disalahartikan maupun diseret pada persepsi negatif.

Meski demikian, hingga saat ini H. Udik belum memaparkan secara rinci jumlah akumulasi dana yang telah terkumpul dan penggunaannya dari para anggota paguyuban.

Ketiadaan penjelasan detail tersebut menyisakan ruang tafsir di tengah anggota, sekaligus menjadi catatan penting agar transparansi pengelolaan organisasi tetap terjaga di masa mendatang.

2