Berita

Dibalik Musim Sulit, PR. Bahagia Tetap Serap Tembakau Petani Sumenep Tanpa Ribet

39
×

Dibalik Musim Sulit, PR. Bahagia Tetap Serap Tembakau Petani Sumenep Tanpa Ribet

Sebarkan artikel ini
Foto: H. Mukmin, Owner PR. Bahagia saat proses pembelian tembakau petani di gudang miliknya, Sabtu (13/9/2025).
Foto: H. Mukmin, Owner PR. Bahagia saat proses pembelian tembakau petani di gudang miliknya, Sabtu (13/9/2025).

SUMENEP, RINGSATU.Net – Di tengah musim kemarau yang tak bersahabat dan kualitas tembakau yang menurun akibat guyuran hujan di masa tua tanaman, para petani tembakau di Kabupaten Sumenep seolah berjalan di ujung tanduk, Sabtu (13/9/2025).

Namun di saat banyak gudang menutup pintu atau menerapkan seleksi ketat, PR. Bahagia justru tampil berbeda dengan membuka diri, membeli langsung dari petani, tanpa proses panjang, tanpa sampel yang merepotkan.

Gudang yang dikelola oleh pengusaha lokal H. Mukmin dan berlokasi di Jl. Raya Lenteng-Ganding, Desa Ganding, Kecamatan Ganding, menjadi penyelamat bagi banyak petani.

Dengan sistem timbangan digital yang transparan namun PR. Bahagia tetap menyerap tembakau rakyat secara konsisten.

Harga bervariasi, mulai dari Rp.45.000 hingga Rp.65.000 per kilogram tergantung kondisi tembakau, meski sempat menyentuh angka Rp. 75.000 di awal pembelian.

“Meski kondisi tembakau kurang bagus karena faktor cuaca, Meski sangat jelek yang penting dibawa langsung oleh petani kami tetap terima. bukan lewat perantara,” tegas H. Mukmin.

Ia mengaku telah menyerap sekitar 500 ton tembakau dari total target 700 ton pada musim ini. Setiap harinya, tak kurang dari 400 bal tembakau masuk ke gudangnya, dengan rata-rata berat 45 kilogram per bal.

Dengan waktu pembelian yang direncanakan akan ditutup akhir September, masih tersisa 200 ton tembakau yang perlu diserap.

Sayangnya, tidak semua gudang sefleksibel PR. Bahagia. Banyak petani mengeluh karena hasil panen mereka ditolak atau ditawar dengan harga sangat rendah. Di sisi lain, keberadaan para tengkulak atau bandol makin menekan posisi tawar petani.

Menurut data lapangan, hingga saat ini, serapan tembakau di Kabupaten Sumenep baru menyentuh sekitar 60 persen.

Ini menjadi sinyal bahaya, mengingat ribuan petani tembakau di Sumenep menggantungkan hidup dari hasil panen tahun ini.

“Kalau stok ini tidak segera terserap, petani akan merugi besar. Apalagi modal tanam tembakau tidak kecil. Pemerintah daerah harus hadir, jangan mencari solusi bagaimana tembakau petani bisa terserap semua,” kata salah seorang tokoh petani setempat.

PR. Bahagia mungkin bukan gudang terbesar, tapi kehadirannya membawa harapan. Di tengah kekecewaan terhadap sistem pasar tembakau yang timpang dan lemahnya perlindungan terhadap petani, langkah konkret seperti yang dilakukan H. Mukmin perlu diapresiasi dan dijadikan contoh.