LUMAJANG, RINGSATU.Net – Pasca bencana banjir lahar panas yang melanda dua wilayah terdampak, yakni Dusun Sumber Langsep, Desa Jugosari, dan Dusun Kajang Kosong, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, pada Sabtu (6/12/2025) pukul 16.05 WIB, pemerintah setempat bergerak cepat menyalurkan bantuan logistik kepada para pengungsi.
Bantuan berupa sembako dan kebutuhan dapur sehari-hari telah mulai diterima oleh warga terdampak.
Upaya ini diapresiasi sebagai bentuk tanggap darurat yang patut dicatat, meskipun tantangan di lapangan masih cukup besar.
Menurut keterangan warga, akses jalan menuju lokasi pengungsian saat ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Kondisi medan yang belum memungkinkan dilalui kendaraan membuat para relawan harus mengangkut bantuan secara manual, menempuh jalur yang cukup terjal dan licin.
“Alhamdulillah bantuan sudah datang, tapi memang harus digotong karena kendaraan belum bisa masuk,” ujar salah satu warga yang turut membantu distribusi logistik, Minggu (7/12/2025).
Di sisi lain, muncul kembali kekhawatiran masyarakat terkait aktivitas penambangan di sekitar kawasan rawan bencana.
Sebelum kejadian, warga telah menyuarakan kekhawatiran terhadap praktik penambangan di sisi selatan yang dinilai berisiko memperparah dampak bencana.
Dugaan ini menguat setelah banjir lahar panas benar-benar meluap dan menenggelamkan sejumlah rumah dan fasilitas ibadah.
Supriyono, Aktivis peduli bencana Kabupaten Lumajang, berharap agar ke depan ada evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas penambangan di wilayah rawan bencana.
Pendekatan yang mengedepankan keselamatan warga dan kelestarian lingkungan dinilai penting agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat memperkuat koordinasi, baik dalam penanganan darurat maupun dalam pengawasan aktivitas yang berpotensi memperbesar risiko bencana yang kerap terjadi setiap tahun,” ujarnya saat meninjau langsung ke lokasi.
Menurutnya, langkah ini menjadi penting demi menjamin keselamatan dan ketenangan hidup masyarakat di kawasan lereng gunung yang rentan terhadap ancaman alam.












